Kamis, 14 Desember 2017

DESAIN FOR ENVIRONMENT

DESIGN FOR ENVIRONMENT (DFE)



Desain untuk Lingkungan (DFE) adalah pendekatan desain untuk mengurangi dampak kesehatan dan lingkungan secara keseluruhan dari suatu produk, proses atau layanan, dimana dampak dipertimbangkan sepanjang siklus hidupnya. Praktek DFE yang efektif dapat menjaga atau memperbaiki kualitas dan biaya produk sampai mengurangi dampak terhadap lingkungan. DFE memperluas fokus produsen tradisional pada produksi dan distribusi produknya ke siklus hidup tertutup.

Green Desain
·        Pengambilan keputusan selama proses perancangan yang sangat penting untuk pencapaian tujuan  lingkungan. Diperkirakan bahwa 70% atau lebih dari biaya siklus hidup produk ditentukan selama perancangan.
·        Menganggap dampak lingkungan memerlukan analisis efek hilir selama produksi, operasi, dan pembuangan.


Life Cycle Analysis (LCA)
Mengukur dampak lingkungan terhadap siklus hidup produk. Langkah-langkah dalam analisis LCA adalah:
1.     Menyiapkan pilihan desain yang diusulkan
2.     Mengidentifikasi siklus hidup
3.     Mengidentifikasi semua bahan dan sumber energi yang digunakan
4.     Mengidentifikasi keluaran dan aliran limbah
5.     Mengukur sampah dari setiap bahan, energi, dan limbah

6.     Dampak agregat ke dalam kategori untuk perbandingan


Tujuan DFE menurut para ahli adalah menyediakan informasi untuk menolong industri untuk merancang operasi yang bersifat lingkungan dana man bagi pekerja dengan biaya yang lebih efektif. Prinsip-prinsip utama DFE:
·        Memperbaiki keselamatan pekerja, kesehatan masyarakat, dan kesehatan lingkungan sementara juga menjaga atau memperbaiki kinerja dan kualitas produk
·        Menggunakan sumberdaya secara bijaksana
·        Menggabungkan pertimbangan lingkungan kedalam desain dan redesain produk, proses, dan Teknik sistem manajemen.


Manfaat DFE

Hasil akhir dari proses ini seringkali berupa produk yang tidak hanya mempunyai dampak aman pada lingkungan namun juga mempunyai kualitas yang lebih baik dan menguntungkan dari segi pemasaran. Biaya bagi pihak perakit juga dapat direduksi. Pengurangan jumlah material dan sumberdaya yang digunakan untuk merakit produk dapat mengurangi limbah. Pilihan lain bagi penghematan termasuk mengurangi pengemasan, dan mengurangi biaya transportasi dengan mengurangi berat produk atau meningkatkan efisiensi dalam pengemasan atau peyimpanan.





REFERENSI
·        PPT DESAIN FOR ENVIRONMENT (ABDUL MALIK FIRDAUS,S.KEL.,M.I.L)

STRATEGI PENGURANGAN DAMPAK LINGKUNGAN

1.  LIMBAH
Limbah adalah buangan yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis. Limbah yang mengandung bahan polutan memiliki sifat racun dan berbahaya, hal ini lebih sering dikenal dengan limbah B3. Sifat beracun dan berbahaya limbah ditunjukkan oleh sifat fisik dan sifat kimia, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.
Berikut adalah kriteria limbah B3:
·        Mudah terbakar
·        Korosif
·        Mudah meledak
·        Bersifat oksidator dan reduktor kuat
·        Mudah membusuk

Oleh karena itu, suatu industri (Primer, Sekunder, Tersier) membutuhkan nilai ambang batas untuk limbah yang dihasilkan. Nilai ambang batas adalah kadar tertinggi suatu zat dimana seseorang dalam suatu lingkungan masih sanggup berada tanpa menunjukkan suatu respon berupa penyakit atau gangguan kesehatan.

Berikut adalah fungsi nilai ambang batas:
·        Sebagai indikator untuk mengetahui secara dini lingkungan tercemar atau tidak
·        Sebagai parameter menyatakan Batasan kadar suatu zat akan berubah sifatnya dari kontaminan menjadi polutan
·        Pedoman pengendalian masalah pencemaran
·        Perlindungan bagi kesehatan masyarakat





2.KLASIFIKASI LIMBAH INDUSTRI DAN KARAKTERISTIKNYA
Berdasarkan nilai ekonomisnya, limbah terbagi dua menjadi limbah ekonomis dan limbah non-ekonomis.
a.     Limbah Ekonomis
Limbah ekonomis adalah limbah yang jika diolah lebih lanjut dapat memberikan nilai tambah. Contohnya:
·        Limbah dari pabrik gula yaitu tetes, dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan alcohol, ampas tebu nya dapat dijadikan bubur pulp dan dipakai untuk pabrik kertas.
b.     Limbah non-Ekonomis
Limbah non-ekonomis adalah limbah yang tidak akan memberikan nilai tambah walaupun sudah diolah kembali, tetapi pengolahan diperlukan untuk proses pembuangannya. Contohnya:
·        Limbah pabrik tekstil yang biasanya berupa zat-zat pewarna
Berdasarkan karakteristiknya, limbah dibagi menjadi tiga bagian, yaitu limbah cair, limbah gas dan partikel, dan limbah padat.
a.     Limbah Cair
Limbah cair adalah limbah yang terlarut di dalam air, limbah ini selalu mengalir selayaknya air yang mengalir ke tempat dataran tinggi ke dataran rendah. Limbah cair sangat berbahaya jika terkena lingkungan, karena air merupakan sumber kehidupan bagi manusia, tumbuhan maupun hewan.

b.     Limbah Gas dan Partikel
Limbah gas dan partikel adalah limbah yang dibuang ke udara. Gas/asap, partikulat, atau debu yang dikeluarkan oleh pabrik ke udara akan terbawa angina sehingga jangakauan pemaparannya semakin luas.

c.      Limbah Padat
Limbah padat adalah limbah yang berwujud padat. Limbah padat bersifat kering, tidak dapat berpindah kecuali ada yang memindahkannya. Limbah ini sangat berbahaya bagi lingkungan karena dapat menumpuk dan merusak ekosistem lingkungan yang ada di dekatnya.



Berdasarkan sifatnya, menurut A.K. Haghi (2011), limbah terdiri atas enam jenis, yaitu:
a.     Limbah Mudah Meledak
Limbah mudah meledak adalah limbah yang melalui proses kimia yang dapat menghasilkan gas dengan suhu tekanan tinggi serta dapat merusak lingkungan
b.     Limbah Mudah Terbakar
Limbah mudah terbakar adalah limbah yang mengandung bahan yang menghasilkan gesekan atau percikan api jika berdekatan dengan sumber api.
c.      Limbah Reaktif
Limbah reaktif adalah limbah yang memiliki sifat mudah bereaksi dengan oksigen atau limbah organik peroksida yang tidak stabil dalam suhu tinggi dan dapat menyebabkan kebakaran.
d.     Limbah Beracun
Limbah beracun atau limbah B3 adalah limbah yang mengandung racun berbahaya bagi manusia dan lingkungan.
e.     Limbah Korosif
Limbah korosif adalah limbah yang dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan dapat membuat logam berkarat.







3.  PENGOLAHAN LIMBAH

a.     Pengolahan Limbah cair
Pengolahan limbah cair dengan proses biologi adalah dengan memanfaatkan mikroorganisme (ganggang, bakteri atau protozoa) untuk menguraikan senyawa organik dalam air limbah menjadi senyawa yang lebih sederhana.

b.     Pengolahan Limbah Gas dan Partikulat
Pengolahan jenis limbah ini dilakukan dengan metode penyederhanaan gas buang dengan absorbs, pembakaran, penyerapan ion, kolam netralisasi, dan pembersihan partikel. Salah satu peralatan yang umum digunakan dalam pengolahan limbah gas dan partikulat adalah dengan menggunakan alat “scrubber”, prinsip kerja alat ini adalah bercampurnya air dengan uap/gas dalam suatu wadah, umumnya arah aliran berlawanan agar kontak antara uap dan air dapat berlangsung sempurna.

c.      Pengolahan Limbah Padat
Pengolahan limbah padat adalah dengan melalui proses seperti pemisahan, pengomposan, pembuangan, dan insinerasi.







Referensi:
·        PPT STRATEGI MENGURANGI DAMPAK LINGKUNGAN (ABDUL MALIK FIRDAUS,S.KEL.,M.I.L)




Selasa, 28 November 2017

ENVIROMENTAL MANAGEMENT SYSTEM & ISO 14000

ENVIRONMENTAL MANAGEMENT
SYSTEM & ISO 14000



Sistem Manajemen Lingkungan atau Environment Management System (EMS) adalah bagian dari keseluruhan sistem manajemen yang meliputi struktur organisasi, rencana kegiatan, tanggung jawab, latihan atau praktek, prosedur, proses dan sumber daya untuk pengembangan, penerapan, evaluasi, dan pemeliharaan kebijakan lingkungan. (ISO 14001, 1996)

APA ITU ISO?
International Organisation for Standardization (ISO) adalah organisasi internasional untuk standarisasi. Memiliki keanggotaan 160 lembaga standar nasional dari negara-negara besar dan kecil, industry, berkembang dan dalam transisi, di semua wilayah di dunia.

SEJARAH SINGKAT ISO 1400
            PENDAHULUAN
Sistem Manajemen Lingkungan (EMS) adalah bagian dari keseluruhan system manajemen organisasi. Ini adalah pendekatan sistematis yang berkaitan dengan aspek lingkungan suatu organisasi. EMS menyediakan kerangka kerja untuk membantu organisasi mengidentifikasi aspek-aspek bisnisnya yang memiliki dampak signifikan terhadap lingkungan, menetapkan tujuan dan target untuk meminimalkan dampak ini dan mengembangkan program untuk mencapai target dan menerapkan langkah-langkah pengendalian operasional lainnya untuk memastikan kepatuhan terhadap pernyataan kebijakan lingkungan.
Selama KTT Bumi 1992 di Rio de Janeiro, Dewan Bisnis untuk Pembangunan Berkelanjutan menyarankan agar Organisasi Internasional untuk Standarisasi (ISO), yang menetapkan standar untuk kualitas udara, air, dan tanah, harus mengembangkan standar internasional untuk kinerja lingkungan berdasarkan konsep pembangunan berkelanjutan.
Pada tahun 1993, ISO membentuk Komite Teknis 207 tentang Pengelolaan Lingkungan untuk mengembangkan standar internasional untuk alat dan system pengelolaan lingkungan.

PENDEKATAN BARU UNTUK PERLINDUNGAN LINGKUNGAN

Seri ISO 1400
            Sebuah set dari standar internasional membawa fokus di seluruh dunia ke lingkungan, sehingga mendorong dunia yang bersih, lebih aman, lenih sehat bagi kita semua. Adanya standar memungkinkan organisasi untuk fokus pada upaya lingkungan terhadap kriteria yang diterima secara internasional.
            Rangkaian standar ISO 1400 yang dikembangkan oleh ISO/TC 207 secara efektif menangani kebutuhan orgnisasi di seluruh dunia dengan menyediakan kerangka umum untuk mengelola masalah lingkungan. Mereka berjanji untuk menerapkan perbaikan pengelolaan lingkungan secara luas yang pada gilirannya dapat memfasilitasi perdagangan dan memperbaiki kinerja lingkungan di seluruh dunia.
            ISO 14000 adalah kumpulan standar-standar terkait pengelolaan lingkungan yang disusun untuk membantu organisasi, seperti:
1.     Meminimalisir dampak negatif kegiatan-kegiatan mereka terhadap lingkungan, seperti menimbulkan perubahan yang merugikan terhadap udara, air atau tanah.
2.     Mematuhi peraturan perundang-undangan dan persyaratan berorientasi lingkungan yang berlaku.
3.     Memperbaiki hal-hal di atas secara berkelanjutan.

Tujuan utama dari serial norma-norma ISO 14000 adalah untuk mempromosikan pengelolaan lingkungan yang efektif dan efisien dalam organisasi dan untuk menyediakan perangkat yang berguna dan berfungsi, menghemat biaya, berbasis sistem, fleksibel, dan mencerminkan organisasi yang terbaik dan praktik-praktik terbaik untuk mengumpulkan, menerjemahkan dan mengkomunikasikan informasi tentang lingkungan. Sebelum adanya ISO 14000, organisasi-organisasi menyusun sendiri EMS-nya secara sukarela, tetapi hal ini menyebabkan perbandingan dampak-dampak lingkungan antar perusahaan menjadi sulit; oleh karenanya, serial ISO 14000 yang universal disusun. EMS didefinisikan oleh ISO sebagai bagian dari sistem pengelolaan menyeluruh, yang mencakup struktur, aktifitas perencanaan, tanggung jawab, praktik-praktik, prosedur-prosedur dan sumber daya organisasi dalam mengembangkan, menerapkan, mencapai dan mempertahankan kebijakan lingkungan. (ISO 1996 sebagaimana dikutip dalam Federal Facilities Council Report 1999)


REFERENSI
- PPT EMS (ABDUL MALIK FIRDAUS,S.KEL.,M.I.L)
- https://id.wikipedia.org/wiki.ISO14000

LIMBAH INDUSTRI TEKSTIL

MENGIDENTIFIKASI LIMBAH
INDUSTRI TEKSTIL


Hingga saat ini perkembangan industri di Indonesia telah berkembang dengan cepat dan cukup signifikan, hal ini dikarenakan pemerintah terus mendorong pertumbuhan industri untuk menopang perekonomian Indonesia. Salah satu industri yang banyak dijumpai di Indonesia adalah industri tekstil, karena bahan dan material nya mudah ditemui di Indonesia.
          Kata “tekstil” berasal dari Bahasa latin (Bahasa Yunani kuno), yaitu kata “texere” yang berarti menenun, yaitu membuat kain dengan cara penyilangan atau penganyaman dua kelompok benang yang saling tegak lurus sehingga membentuk anyaman benang-benang yang disebut kain tenun. Selanjutnya kata kain tenun itu sendiri berubah menjadi tekstil atau bahan tekstil yang identik dengan pengertian bahan  pakaian karena pada umumnya kain tenun digunakan untuk bahan pakaian.
          Adanya proses industri tentunya akan menghasilkan limbah yang tidak sedikit, Berdasarkan karakteristiknya, limbah dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu limbah cair, limbah padat, dan limbah gas. Berdasarkan nilai tambah nya limbah dibagi menjadi dua, yaitu limbah ekonomis dan limbah non ekonomis. Limbah ekonomis adalah limbah yang jika diolah menghasilkan nilai tambah atau dapat dijadikan suatu produk tertentu. Sedangkan, limbah non ekonomis adalah limbah yang memberikan dampak pencemaran dan kerusakan terhadap lingkungan.


Limbah Industri Tekstil
1)    Limbah cair
Pada tahapan pembuatan kain pada industri tekstil dapat menghasilkan limbah dalam bentuk cair, ini terjadi pada tahapan pemberian warna yang memerlukan bahan kimia beserta air sebagai media pelarut. Limbah ini tergolong dalam limbah cair yang merupakan senyawa kimia sintetis, senyawa kimia sintetis ini jika terkena lingkungan sekitar mempunyai pengaruh yang kuat dalam merusak ekosistem. Zat warna tekstil merupakan semua zat warna yang mempunyai kemampuan untuk diserap oleh serat tekstil.
Proses pewarnaan dan pembilasan pada kain adalah sumber limbah cair utama, yang menghasilkan asam-basa, COD, BOD, padatan tersuspensi, dan zat-zat kimia.

2)    Limbah gas
Salah satu limbah yang dihasilkan dari beberapa proses pembuatan kain adalah limbah gas. Limbah dalam berbentuk gas yang terdiri dari senyawa kimia yang berbahaya bagi manusia maupun bagi lingkungan sekitar ini terbentuk dari proses pemasakan pada industri tekstil.

          Jadi, proses terbentuknya limbah sebagian besar diakibatkan karena adanya peran zat kimia yang menjadi bahan pokok dalam proses industry tekstil. Ada beberapa jenis-jenis limbah tekstil yang terdiri dari:
a.      Logam berat terutama As, Cd, Cr, Pb, Cu, Zn
b.     Hidrokarbon terhalogenasi (dari proses dressing dan finishing)
c.      Pigmen, zat warna, dan pelarut organic
d.     Surfaktan

Berbagai jenis limbah yang dihasilkan oleh industry tekstil tersebut jika tidak diolah dengan baik dan terkena lingkungan sekitar akan mengakibatkan kerusakan ekosistem alam pada suatu tempat akibat dari pencemaran limbah-limbah tersebut. Contohnya, jika limbah cair dari proses produksi kain tercampur dengan air sungai, maka akan menimbulkan akibat atau dampak seperti mati nya makhluk hidup di sungai tersebut, menurunnya kualitas perairan, kerusakan ekosistem sungai, dll.



Referensi:

Jumat, 17 November 2017

GREEN SCIENCE AND GREEN TECHNOLOGY

GREEN SCIENCE AND GREEN TECHNOLOGY



            Kita sebagai makhluk hidup di bumi ini sangat bergantung kepada alam sekitar untuk bertahan hidup, maka dari itu untuk menjaga kelestarian lingkungan diperlukan cara berfikir yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.  Maka dari itu diperlukan pemahaman mengenai green science and green technology khususnya untuk para engineering yang bergelut di bidang perindustrian.

            Green science adalah ilmu yang sangat berorientasi pada pemeliharaan kualitas lingkungan, pengurangan bahaya, minimalisasi konsumsi sumber daya tak terbarukan, dan berkelanjutan secara keseluruhan. Hal ini menunjukkan bahwa diperlukannya penerapan yang nyata agar lingkungan sekitar tetap terjaga kelestariannya.

            Dalam dunia industri, kita mengenal adanya teknologi yang sehari-hari menjadi peran utama untuk melakukan suatu proses produksi. Jika kita menggunakan teknologi yang tidak ramah lingkungan, maka akan memberi dampak negatif terhadap lingkungan. Maka dari itu, sudah seharusnya kita memikirkan tentang teknologi yang ramah lingkungan (green technology) untuk menjaga kualitas lingkungan dan mengurangi dampak negatif penggunaan teknologi terhadap lingkungan.

Berikut ini adalah tujuan utama ilmu berkelanjutan dan teknologi menurut Graedel dan Allenby yaitu sebagai berikut:
1.     Pemeliharaan spesies manusia
2.     Pembangunan berkelanjutan
3.     Pemeliharaan keanekaragaman hayati
4.     Kekayaan estetik

LIFE CYCLE ANALYSIS (LCA)


            LCA adalah suatu pendekatan yang digunakan untuk menganalisa dampak suatu produk ke lingkungan dalam semua tahapannya selama siklus hidup produk. Secara umum, LCA merupakan pendekatan untuk mengukur dampak lingkungan yang dikibatkan oleh produk atau aktivitas mulai dari pengambilan raw material, proses produksi, penggunannya, dan pengelolaan sampah atau limbahnya. Oleh karena itu, life cycle analysis diperlukan untuk setiap produk yang akan digunakan oleh masyarakat. Berikut ini adalah empat komponen utama dari LCA:

1    Determination of the scope of the assessment
2.   Inventory analysis of materials mass and energy
3.  Analysis of impact on the environment, human health, and other potentially impacted
   areas
4.  Improvements analysis


PRINSIP DARI GREEN SCIENCE AND GREEN TECHNOLOGY

1. Dengan kegiatan mereka saat ini, manusia akan menghabiskan sumber daya di bumi dan merusak lingkungan sampai pada kondisi dimana keberadaan manusia di planet ini akan terganggu secara serius atau bahkan menjadi tidak mungkin. Di masa lalu, peradaban telah menurun dan seluruh populasi telah habis terdegradasi karena mereka telah menghabiskan sistem lingkungan utama.

Hal ini mengartikan bahwa prinsip pertama menjelaskan mengenai akibat dari setiap kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan bertahan hidup itu mengakibatkan kerusakan lingkungan dan pengkikisan sumber daya alam yang ada, sehingga pada suatu waktu sumber daya akan habis dan lingkungan akan rusak hingga bumi tempat manusia berpijak ini akan habis.

2. Persamaan di bawah ini menjelaskan beban, dan degradasi sistem pendukung
        bumi ; kedua faktor tersebut harus ditangani:

Beban = (jumlah orang) x (permintaan per orang)

Manusia menjadi beban tersendiri bagi bumi, hal ini karena kehidupan manusia sangat bergantung kepada sumber daya yang ada di bumi. Setiap hari segala jenis sumber daya yang ada digunakan oleh manusia untuk beraktivitas.

3. Bahkan dengan risiko bencana global, teknologi akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia; Oleh karena itu, teknologi harus dirancang dengan tujuan tidak menghasilkan dampak terhadap lingkungan dan keberlanjutan maksimum.

Teknologi digunakan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Maka dari itu, seharusnya teknologi dirancang ramah lingkungan agar tidak memberikan dampak negatif terhadap lingkungan.

4. Dalam pengakuan akan realitas dari prinsip ke-3, penting untuk mengenali anthrosphere sebagai salah satu dari lima lapisan pada lingkungan.

Pengenalan anthrosphere sangat penting dipelajari untuk realitas pada prinsip ke-3. Anthrosphere (kadang juga disebut technospehere) adalah bagian dari lingkungan yang dibuat atau dimodifikasi oleh manusia untuk digunakan dalam aktivitas manusia dan habitat manusia. Ini adalah salah satu bidang dari Bumi.

5. Kunci dari keberlanjutan adalah pengembangan sumber energi berlimpah yang digunakan secara efisien yang memiliki atau tidak ada dampak lingkungan; sumber seperti itu akan memerlukan keputusan dan kompromi yang sulit.

Pengembangan sumber energi berlimpah harus terus diusahakan dan dilakukan penelitian agar dapat digunakan secara efisen. Hal ini untuk mencapai tujuan keberlanjutan agar generasi masa depan tidak terancam dan sumber daya tidak habis.

6. Iklim yang kondusif bagi kehidupan di bumi harus dijaga

Iklim merupakan salah satu aspek terpenting dalam kehidupan di bumi. Jika iklim yang ada berubah-ubah, maka kehidupan akan sulit untuk menyesuaikan dengan perubahan iklim yang drastis dan sering terjadi. Hal ini dapat diakibatkan oleh pencemaran yang terjadi di bumi.

7. Kapasitas bumi untuk produktivitas biologis dan pangan harus dijaga dan ditingkatkan; ini akan memerlukan pertimbangan interaksi kelima aspek lingkungan.

Produktivitas biologi dan pangan memiliki peran yang sangat vital dalam menjaga produktivitas bumi. Karena, faktor-faktor seperti ini akan selalu dibutuhkan oleh manusia maupun hewan atau tumbuhan untuk bertahan hidup di bumi.

8. Permintaan bahan harus dikurangi secara drastis dan bahan harus berasal dari sumber yang berkelanjutan, dapat didaur ulang, dan bagi mereka yang masuk ke lingkungan semula, dapat terdegradasi.

Untuk melakukan segala aktivitas seperti produksi dan konsumsi, manusia menggunakan bahan dasar yang berbagai macam jenisnya. Ada bahan dasar yang dapat didaur ulang dan ada juga yang sulit untuk didaur ulang. Maka dari itu, untuk mewujudkan tujuan berkelanjutan, seharusnya manusia sudah menggunakan bahan-bahan yang dapat didaur ulang dan tidak merusak lingkungan.

9. Produksi dan penggunaan zat beracun berbahaya dan persisten harus diminimalkan dan zat semacam itu tidak boleh dibuang ke lingkungan.

Zat-zat yang memiliki sifat beracun ataupun merusak penggunaannya harus diminimalkan bahkan sebaiknya tidak digunakan, jika memang tetap harus digunakan maka setelah penggunaan limbahnya tidak boleh dibuang ke lingkungan.

10. Kesejahteraan manusia harus diukur dari segi kualitas hidup, bukan hanya perolehan harta benda. Ekonomi, sistem pemerintahan, kepercayaan, dan gaya hidup harus mempertimbangkan lingkungan dan keberlanjutannya.

Sejahtera merupakan suatu hal yang diinginkan oleh setiap manusia. Namun kesejahteraan yang seharusnya difahami adalah bukan segala sesuatu yang berhubungan dengan kemewahan ataupun harta benda, melainkan kesejahteraan dalam arti segala aspek di bumi ini terutama lingkungan dapat terjaga dengan baik dan memiliki gaya hidup yang mencerminkan keberlanjutan.

11. Resiko tidak mengambil resiko harus diketahui

Hal ini bermaksud manusia harus mengambil resiko dari sikapnya yang tidak mengambil resiko dalam suatu kegiatan. Contohnya, manusia harus mengambil resiko dengan hanya menggunakan bahan-bahan yang dapat didaur ulang agar dapat menghindari resiko rusaknya lingkungan.

12. Singkatnya, tujuannya adalah untuk mencapai keberlanjutan, sebuah konsep dimana siswa dan masyarakat harus dididik. Meskipun keberlanjutan akan memerlukan perubahan besar dalam sistem masyarakat, ilmuwan, insinyur, dan akhirnya warga yang tercerahkan harus memimpin; tidak ada waktu bagi para politisi dan nonscientists untuk mengambil keputusan.

Kesimpulannya adalah keberlanjutan harus segera diwujudkan untuk menjaga kualitas bumi kita beserta isinya. Hal ini diwujudkan dengan mendidik dan melatih mental semua orang agar memiliki prinsip berkelanjutan demi tercapainya kesejahteraan Bersama.






REFERENSI:
·PPT GREEN SCIENCE AND GREEN TECHNOLOGIES (ABDUL MALIK FIRDAUS,S.KEL.,M.I.L)


ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN (AMDAL)

ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN
(AMDAL)



Analisis mengenai dampat lingkungan (AMDAL) lahir berdasarkan undang-undang tentang lingkungan hidup di Amerika Serikat. National Environmental Policy Act (NEPA) tahun 1969, dan mulai berlaku tanggal 1 Januari 1970. NEPA merupakan suatu reaksi terhadap kerusakan lingkungan oleh aktivitas manusia yang semakin meningkat, antara lain tercemarnya lingkungan oleh pestisida serta limbah dari industri, transportasi, dsb.



Untuk memenuhi setiap kebutuhannya, manusia bekerja dan berproduksi. Kegiata-kegiatan pemenuhan kebutuhan tersebut tentunya tidak dapat dihindari lagi, lalu bagaimana dengan kepentingan-kepentingan lainnya? Salah satunya kepentingan kelanjutan kelestarian bumi ini. Hal ini akan menimbulkan benturan kepentingan antara keduanya. Jadi, manakah yang lebih penting? Mari kita buat pemisalan.

Jika manusia mengedepankan kepentingannya seperti berproduksi atau melaksanakan proyek pembangunan yang menghabiskan lahan yang luas untuk tetap bertahan hidup maka kepentingan kelestarian alam dapat terancam keberadaannya, bahkan bisa saja rusak akibat kepentingan-kepentingan manusia tersebut. Sedangkan, jika manusia mengedepankan kepentingan kelestarian alam sekitar dengan mengorbankan kepentingan kegiatan produksi serta proyek pembangunan untuk bertahan hidup maka kehidupan serta alur produksi manusia juga dapat terancam keberadaannya. Lantas manakah yang lebih penting??? Jawabannya adalah keduanya sangat penting. Maka disini perlu adanya keseimbangan yang terjadi antara kepentingan produktivitas manusia dengan kepentingan kelestarian alam. Maka dari itu diperlukannya analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) dalam suatu pembangunan atau proyek yang dilakukan oleh manusia.

AMDAL TERDIRI ATAS 4 DOKUMEN:

     1.     KA-ANDAL (Kerangka Acuan-ANDAL)

Ka-ANDAL adalah dokumen pertama yang akan dijadikan sebagai pedoman dalam menyusun studi ANDAL.

     2.     ANDAL (Analisis Dampak Lingkungan)

ANDAL adalah dokumen kedua yang berisi tentang kajian secara cermat dan mendalam tentang dampak penting suatu rencana kegiatan terhadap LH.


     3.     RKL (Rencana Pengelolaan Lingkungan)

RKL adalah dokumen ketiga yang berisi tentang rekomendasi ANDAL tentang berbagai alternative rencana upaya pengelolaan lingkungan yang perlu dilakukan dalam rangka mencegah dan menanggulangi dampak negative penting yang diprakirakan terjadi dan mendorong dampak positif penting yang diprakirakan terjadi.

     4.     RPL (Rencana Pemantauan Lingkungan)
RPL adalah dokumen keempat yang berisi tentang rekomendasi ANDAL tentang berbagai alterative rencana upaya pemantauan lingkungan yang akan dilakukan dalam rangka melihat efektifitas RKL dan kecenderungan perubahan lingkungan yag terjadi sekaligus sebagai early warning system.


APAKAH FUNGSI DARI STUDI AMDAL ITU?

1.Mengidentifikasi rencana kegiatan yang diprakirakan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan baik yang bersifat positif maupun negatif.

2.Mengidentifikasi komponen atau parameter lingkungan yang diprakirakan terkena dampak penting.

3.Memprakirakan dan mengevaluasi segenap dampak penting yang akan timbul akibat adanya rencana   kegiatan sebagai dasar untuk menilai kelayakan lingkungan.

4.Menyusun rencana atau langkah-langkah untuk mencegah dan menanggulangi serta memantau   dampak penting yang akan timbul.
  

Selain itu ada juga fungsi AMDAL menurut pandangannya, seperti:

     a.     Bagi Pemrakarsa
1)Sebagai masukan bagi penyempurnaan desain teknis rencana kegiatan yang akan dilakukan oleh perusahaan.

2)Sebagai pedoman dalam pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).

3)Sebagai salah satu persyaratan bagi diterbitkannya surat perijinan yang diperlukan.
   
4)Sebagai bukti kesadaran, ketaatan, dan kepedulian pemrakarsa terhadap ketentuan hukum yang berlaku.

     b.     Bagi Pemerintah
1)Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan bagi rencana   pembangunan/proyek oleh perusahaan.
  
2)Menjadi bahan acuan dalam pengawasan terutama dalam pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan.

3)Menyediakan informasi bagi perencanaan pembangunan wilayah di Kabupaten/Kota.


     c.     Bagi Masyarakat
1)Mengetahui informasi lebih dini tentang adanya rencana kegiatan tersebut, sehingga dapat mengantisipasi resiko negatip yang akan dihadapi dengan adanya proyek tsb dan memanfaatkan peluangpeluang yang ada sehubungan dengan adanya kegiatan tersebut, seperti kesempatan kerja dan peluang berusaha
  
2)Turut berperan serta dalam mencegah dan menanggulangi dampak negatif yang diprakirakan terjadi.



    
     CONTOH: TAHAPAN RENCANA KEGIATAN PEMBANGUNAN RUMAH SAKIT

  1.     Tahap persiapan
       a.   Pembentukan Tim penyusun
       b.  Pemahaman mengenai peraturan perundang-undangan
       c.   Pengenalan keadaan umum lokasi kegiatan\
       d.  Penentuan ruang lingkup studi

       e.  Penyusunan rencana kerja

  2.     Pengumpulan dan penyusunan informasi
      a.  Nama dan alamat pemrakarsa kegiatan
      b.  Status, jenis, tujuan, dan kegunaan kegiatan
      c.   Lokasi kegiatan
      d.  Hasil dan lama kegiatan
      e.  Uraian kegiatan mulai dari fase persiapan sampai operasi
      f.   Perkiraan biaya 
      g.  Alur kegiatan
      h.  Rincian mengenai limbah kegiatan
      i.   Sistem pengelolaan limbah

  3.     Tahap kontruksi
      a. Penerimaan tenaga kerja
      b. Pembangunan sarana
      c.  Mobilisasi peralatan
      d. Pembukaan dan pembersihan lahan

  4.     Tahap operasi
      a. Penerimaan tenaga kerja
      b. Pengadaan dan mobilisasi peralatan
      c.  Pelaksanaan kegiatan
      d. Pengolahan limbah

  5.     Tahap pascaoperasi
      a. Penentuan hubungan sebab akibat antara komponen rencana kegiatan dan komponen lingkungan        dengan dampak yang mungkin ditimbulkan
      b. Uraian alternatif pengelolaan dampak lingkungan
      c.  Pengembalian tanah
      d. Rehabilitasi lahan bekas bangunan
      e. Pemutusan hubungan kerja





Dari hal-hal yang telah dijelaskan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa ketika ada suatu proyek atau pembangunan, maka harus dilakukan terlebih dahulu analisis mengenai dampak lingkungannya (AMDAL) pada pembangunan proyek di suatu tempat tersebut. Hal ini dilakukan sebelum operasi pembangunan dimulai, pada saat operasi dijalankan, dan setelah operasi selesai. Maka dari itu, AMDAL merupakan aspek terpenting yang harus dijalankan dan harus disadari oleh manusia itu sendiri, bahwa kita hidup dengan berproduksi tetapi tidak melupakan lingkungan. Maka dari itu, jadilah seorang engineer yang menyayangi lingkungannya!








REFERENSI:
 ·PPT ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN (ABDUL MALIK     FIRDAUS,S.KEL.,M.I.L)






















DESAIN FOR ENVIRONMENT

DESIGN FOR ENVIRONMENT (DFE) Desain untuk Lingkungan (DFE) adalah pendekatan desain untuk mengurangi dampak kesehatan dan lingkunga...

Pencemaran Air