Kamis, 14 Desember 2017

DESAIN FOR ENVIRONMENT

DESIGN FOR ENVIRONMENT (DFE)



Desain untuk Lingkungan (DFE) adalah pendekatan desain untuk mengurangi dampak kesehatan dan lingkungan secara keseluruhan dari suatu produk, proses atau layanan, dimana dampak dipertimbangkan sepanjang siklus hidupnya. Praktek DFE yang efektif dapat menjaga atau memperbaiki kualitas dan biaya produk sampai mengurangi dampak terhadap lingkungan. DFE memperluas fokus produsen tradisional pada produksi dan distribusi produknya ke siklus hidup tertutup.

Green Desain
·        Pengambilan keputusan selama proses perancangan yang sangat penting untuk pencapaian tujuan  lingkungan. Diperkirakan bahwa 70% atau lebih dari biaya siklus hidup produk ditentukan selama perancangan.
·        Menganggap dampak lingkungan memerlukan analisis efek hilir selama produksi, operasi, dan pembuangan.


Life Cycle Analysis (LCA)
Mengukur dampak lingkungan terhadap siklus hidup produk. Langkah-langkah dalam analisis LCA adalah:
1.     Menyiapkan pilihan desain yang diusulkan
2.     Mengidentifikasi siklus hidup
3.     Mengidentifikasi semua bahan dan sumber energi yang digunakan
4.     Mengidentifikasi keluaran dan aliran limbah
5.     Mengukur sampah dari setiap bahan, energi, dan limbah

6.     Dampak agregat ke dalam kategori untuk perbandingan


Tujuan DFE menurut para ahli adalah menyediakan informasi untuk menolong industri untuk merancang operasi yang bersifat lingkungan dana man bagi pekerja dengan biaya yang lebih efektif. Prinsip-prinsip utama DFE:
·        Memperbaiki keselamatan pekerja, kesehatan masyarakat, dan kesehatan lingkungan sementara juga menjaga atau memperbaiki kinerja dan kualitas produk
·        Menggunakan sumberdaya secara bijaksana
·        Menggabungkan pertimbangan lingkungan kedalam desain dan redesain produk, proses, dan Teknik sistem manajemen.


Manfaat DFE

Hasil akhir dari proses ini seringkali berupa produk yang tidak hanya mempunyai dampak aman pada lingkungan namun juga mempunyai kualitas yang lebih baik dan menguntungkan dari segi pemasaran. Biaya bagi pihak perakit juga dapat direduksi. Pengurangan jumlah material dan sumberdaya yang digunakan untuk merakit produk dapat mengurangi limbah. Pilihan lain bagi penghematan termasuk mengurangi pengemasan, dan mengurangi biaya transportasi dengan mengurangi berat produk atau meningkatkan efisiensi dalam pengemasan atau peyimpanan.





REFERENSI
·        PPT DESAIN FOR ENVIRONMENT (ABDUL MALIK FIRDAUS,S.KEL.,M.I.L)

STRATEGI PENGURANGAN DAMPAK LINGKUNGAN

1.  LIMBAH
Limbah adalah buangan yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis. Limbah yang mengandung bahan polutan memiliki sifat racun dan berbahaya, hal ini lebih sering dikenal dengan limbah B3. Sifat beracun dan berbahaya limbah ditunjukkan oleh sifat fisik dan sifat kimia, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.
Berikut adalah kriteria limbah B3:
·        Mudah terbakar
·        Korosif
·        Mudah meledak
·        Bersifat oksidator dan reduktor kuat
·        Mudah membusuk

Oleh karena itu, suatu industri (Primer, Sekunder, Tersier) membutuhkan nilai ambang batas untuk limbah yang dihasilkan. Nilai ambang batas adalah kadar tertinggi suatu zat dimana seseorang dalam suatu lingkungan masih sanggup berada tanpa menunjukkan suatu respon berupa penyakit atau gangguan kesehatan.

Berikut adalah fungsi nilai ambang batas:
·        Sebagai indikator untuk mengetahui secara dini lingkungan tercemar atau tidak
·        Sebagai parameter menyatakan Batasan kadar suatu zat akan berubah sifatnya dari kontaminan menjadi polutan
·        Pedoman pengendalian masalah pencemaran
·        Perlindungan bagi kesehatan masyarakat





2.KLASIFIKASI LIMBAH INDUSTRI DAN KARAKTERISTIKNYA
Berdasarkan nilai ekonomisnya, limbah terbagi dua menjadi limbah ekonomis dan limbah non-ekonomis.
a.     Limbah Ekonomis
Limbah ekonomis adalah limbah yang jika diolah lebih lanjut dapat memberikan nilai tambah. Contohnya:
·        Limbah dari pabrik gula yaitu tetes, dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan alcohol, ampas tebu nya dapat dijadikan bubur pulp dan dipakai untuk pabrik kertas.
b.     Limbah non-Ekonomis
Limbah non-ekonomis adalah limbah yang tidak akan memberikan nilai tambah walaupun sudah diolah kembali, tetapi pengolahan diperlukan untuk proses pembuangannya. Contohnya:
·        Limbah pabrik tekstil yang biasanya berupa zat-zat pewarna
Berdasarkan karakteristiknya, limbah dibagi menjadi tiga bagian, yaitu limbah cair, limbah gas dan partikel, dan limbah padat.
a.     Limbah Cair
Limbah cair adalah limbah yang terlarut di dalam air, limbah ini selalu mengalir selayaknya air yang mengalir ke tempat dataran tinggi ke dataran rendah. Limbah cair sangat berbahaya jika terkena lingkungan, karena air merupakan sumber kehidupan bagi manusia, tumbuhan maupun hewan.

b.     Limbah Gas dan Partikel
Limbah gas dan partikel adalah limbah yang dibuang ke udara. Gas/asap, partikulat, atau debu yang dikeluarkan oleh pabrik ke udara akan terbawa angina sehingga jangakauan pemaparannya semakin luas.

c.      Limbah Padat
Limbah padat adalah limbah yang berwujud padat. Limbah padat bersifat kering, tidak dapat berpindah kecuali ada yang memindahkannya. Limbah ini sangat berbahaya bagi lingkungan karena dapat menumpuk dan merusak ekosistem lingkungan yang ada di dekatnya.



Berdasarkan sifatnya, menurut A.K. Haghi (2011), limbah terdiri atas enam jenis, yaitu:
a.     Limbah Mudah Meledak
Limbah mudah meledak adalah limbah yang melalui proses kimia yang dapat menghasilkan gas dengan suhu tekanan tinggi serta dapat merusak lingkungan
b.     Limbah Mudah Terbakar
Limbah mudah terbakar adalah limbah yang mengandung bahan yang menghasilkan gesekan atau percikan api jika berdekatan dengan sumber api.
c.      Limbah Reaktif
Limbah reaktif adalah limbah yang memiliki sifat mudah bereaksi dengan oksigen atau limbah organik peroksida yang tidak stabil dalam suhu tinggi dan dapat menyebabkan kebakaran.
d.     Limbah Beracun
Limbah beracun atau limbah B3 adalah limbah yang mengandung racun berbahaya bagi manusia dan lingkungan.
e.     Limbah Korosif
Limbah korosif adalah limbah yang dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan dapat membuat logam berkarat.







3.  PENGOLAHAN LIMBAH

a.     Pengolahan Limbah cair
Pengolahan limbah cair dengan proses biologi adalah dengan memanfaatkan mikroorganisme (ganggang, bakteri atau protozoa) untuk menguraikan senyawa organik dalam air limbah menjadi senyawa yang lebih sederhana.

b.     Pengolahan Limbah Gas dan Partikulat
Pengolahan jenis limbah ini dilakukan dengan metode penyederhanaan gas buang dengan absorbs, pembakaran, penyerapan ion, kolam netralisasi, dan pembersihan partikel. Salah satu peralatan yang umum digunakan dalam pengolahan limbah gas dan partikulat adalah dengan menggunakan alat “scrubber”, prinsip kerja alat ini adalah bercampurnya air dengan uap/gas dalam suatu wadah, umumnya arah aliran berlawanan agar kontak antara uap dan air dapat berlangsung sempurna.

c.      Pengolahan Limbah Padat
Pengolahan limbah padat adalah dengan melalui proses seperti pemisahan, pengomposan, pembuangan, dan insinerasi.







Referensi:
·        PPT STRATEGI MENGURANGI DAMPAK LINGKUNGAN (ABDUL MALIK FIRDAUS,S.KEL.,M.I.L)




DESAIN FOR ENVIRONMENT

DESIGN FOR ENVIRONMENT (DFE) Desain untuk Lingkungan (DFE) adalah pendekatan desain untuk mengurangi dampak kesehatan dan lingkunga...

Pencemaran Air